RSS

ONE LOVE Part 1

26 Jan

Staring : IU-Jin Young ,Thunder,Baro,Gongchan,Sandeul,

CNU,Choi Sulli f(x),Choi Siwon, Krystal Jung f(x),Tiffany, Yoona,

Kim Heechul,Minho shinee

Sesaat terbesit bayangan masa kecilku. Tubuhku yang mungil riang gembira menelusuri sisi taman itu. Tiba-tiba, bayangan itu hilang, ketika seseorang mengusap kepalaku. Aku mendongakkan kepala. Mengerutkan keningku, lalu menyunggingkan senyumanku. Ternyata Chondoong, sahabatku. Ia tersenyum juga.

“Wae oppa?” ujarku kepada Chondoong dengan sebutan ‘oppa’ karna umur Chondoong lebih tua dua tahun dariku. “Anio. Aku hanya bingung, mengapa kau sering melamun, Ji Eun?” jawab oppa kepadaku. Aku menyunggingkan senyuman lagi, “Oppa, menurutmu…akankah kita bisa bertemu dengan orang dimasa lalu kita lagi?” tanyaku kepadanya dengan nada ragu-ragu. Oppa Chondoong terlihat bingung dengan pertanyaanku, “Hmm…aku rasa, mungkin..” ujarnya sangat terdengar ragu. “Benarkah??” tegasku atas ucapannya tadi. “Aku bilang mungkin, Saeng…” ucapnya lagi dan kali ini ia mengusap kepalaku lagi. Aku menghela nafas lalu membuangnya keras-keras, untuk mempertandakan aku tidak puas dengan pendapat oppa.

“Hei, kau tidak bisa menerima pendapatku??”  ucap oppa Chondoong seraya berdiri dan ingin beranjak pergi. “Ne. pendapatmu kurang membuat hatiku lega..” ucapku lemas. Oppa Chondoong mendesah lalu, “Kau tau tidak..?” menoleh kearahku dan aku menggelengkan kepala. “Tidak semua kenangan masa lalu bisa terjadi kembali pada masa kini, Ji Eun. Tuhan sudah menetapkan arah jalan hidup ini..” jelas oppa kepadaku. Sekarang aku mengerti, mengapa tuhan tidak mempertemukan aku dengan cinta pertamaku lagi. Oppa Chondoong melirik kearahku lagi. “mwo?” tukasku kepadanya. Ia mendelik lalu menyambar lenganku dan ia menggelitikku hingga kami mengitari Basecamp kami.

Aku Ji Eun, Lee Ji Eun. Aku hanya seorang penyanyi  jalanan, dan aku memang ditakdirkan untuk hidup dijalan. Aku seorang yatim piatu, dulunya aku diasuh oleh seorang pedagang daging. Tapi, pedagang itu berniat menjualku kepada Host. Aku berhasil melarikan diri ketika aku berusia 13 tahun, dan pada saat itu pertama kalinya aku membunuh pelanggan Host. Aku berusaha pergi dari kota itu, dan ternyata aku berhasil. Aku pergi keSeoul. Aku ketakutan dan kelaparan. Aku tidak ingin kejadian yang dulu terjadi lagi.

Ketika aku sedang bersandar dipinggiran sebuah supermarket, aku melihat segerombolan bocah laki-laki seusiaku masuk kedalam supermarket itu. Rasa penasaranku membawa aku ikut masuk kedalam supermarket. Aku terlihat kacau sekali. Hanya memakai kemeja kotak-kotak merah dengan celana Jeans hitam juga sepatu, rambutku terikat tidak karuan. Semua orang memperhatikanku. Security menghampiriku, dan mencegahku masuk. Aku keheranan. Aku menunjuk segerombolan anak laki-laki itu, tanpa berbicara. Tubuhku begitu lemas, hingga tidak mampu berucap sepatah katapun. Akhirnya aku diseret keluar dari supermarket itu. Aku tidak berniat mencuri pak! Teriakku dalam hati.

                Dengan berat kuseret kakiku untuk berjalan meninggalkan supermarket itu. Aku bersandar didinding sebuah toko pada gang kecil. Kulihat segerombolan bocah laki-laki itu keluar dari supermarket dan berjalan menuju gang kecil dimana aku berada. Tubuhku tidak kuat berjalan lagi. Akhirnya aku bersila duduk disana. Gerombolan bocah laki-laki itu melewati aku. Aku terkejut ketika seseorang menyodorkan sebuah Sandwich kepadaku. Aku menoleh kearahnya. Tanpa sadar aku memandanginya dengan tidak bertenaga.

                “Ambillah…” ujarnya kepadaku. “E?” ucapku dengan nada bergetar. Ia tersenyum, “Ambil lah sandwich ini. Walaupun ini hasil mencuriku dengan harga cukup mahal, tetapi aku lihat kau sangat membutuhkannya.. Take it..”ucapnya lembut lalu tersenyum lagi kepadaku. Aku mengambil sandwich itu. Dia ikut duduk disampingku. “Gomawo yo..” ucapku sambil membuka kemasan Sandwich itu. “Kau seorang penguntil?” tanyaku kepadanya. Dia hanya mengangguk. “Siapa namamu?” ucapku lagi. Dia menoleh kearahku lalu tersenyum, “Jin Young…” ujarnya datar. “Ji Eun..” ujarku memperkenalkan diri. “Makanlah..” tukasnya kepadaku. Aku menggigit tepi sandwich itu. Sungguh lezatnya. Gumamku dalam hati. “Euuumm…ke..napa..kau tidak..ikut dengan..mere..ka..?” ujarku, mulutku penuh dengan Sandwich. Ia terkekeh melihatku. “Mereka hanya kru..” ucapnya.

                “Kru..?” ujarku kepadanya. Ia menganggukan kepala. “Mereka hanya kru acting ku…dengan bergabung bersama mereka akan jauh lebih mudah menguntil suatu barang ditoko..” ucapnya lalu terkekeh lagi. “Mengapa kau mencuri??” ucapku. “Entahlah..mungkin ini memang takdirku..” ujarnya lagi. Kuterus pandangi setiap sudut wajahnya. Matanya yang besar, berwarna coklat, hidungnya mancung, kulitnya sedikit kecoklatan, rambutnya coklat dengan bandana dikeningnya, dan bibirnya tipis juga berwarna merah muda.

                Jinyoung berbagi cerita dan derita kepadaku, begitupun aku. Lalu Jinyoung mengajakku untuk bergabung dengan kelompok penguntil. Aku menolak, tapi aku menerima jika aku tinggal bersamanya. Sebuah gubuk kecil aku masuki. Disana ada kasur bekas dengan banyak sobekkan. Tumpukkan kardus, dan bangku-bangku bekas juga sofa bekas yang sudah sobek pula. Aku menoleh kearah Jin Young. Jin Young mengangkat bahunya. Aku memandangi setiap sudut gubuk itu dengan atap dari tumpukan jerami.

                “Sudah berapa lama kau tinggal disini?” ujarku lalu duduk disofa yang telah sobek itu. “Aku rasa sudah enam tahun lebih..” ucapnya lalu ikut duduk disampingku. “Gubuk yang bagus…” ucapku datar. Jin Young terkekeh, “Jangan menghina…” ujarnya. “Anio, anio. Aku tidak menghina Jin oppa..” cegahku atas ucapannya tadi. Jin Young mengerutkan kening, “Lalu..?” “Aku memuji gubuk ini. Gubuk ini tidak terlihat seperti gubuk. Kau menatanya dengan rapih selayaknya istanamu…lihat, kursi-kursi dengan tumpukan kardus yang kau ikat itu, aku melihatnya seperti meja makan yang mewah..kasur disana dengan serabut kelapa diatasnya seperti singgah sana raja. Lalu sofa ini, walapun bekas dan….sobek, tetapi aku merasa seperti duduk diatas kursi raja..” jelasku yang membuatnya tertawa.

                Aku tersenyum ketika ia tertawa. Ia begitu terlihat tampan. Seperti aku melihat bintang yang bersinar dilangit. Tidak kulihat Jin Young oppa sebagai seorang penguntil dan bocah laki-laki yang tengil. Jinyoung oppa bersusah payah mencari kasur untukku, aku mengatur ulang gubuk Jinyoung oppa,agar nantinya ada batas antara kamar ku dengan kamarnya. Akhirnya selesai. Gubuk itu sangat indah. Walaupun batas antar kamarku dengan kamarnya hanya mengenakan gorden besar, aku sangat senang memilikinya.

oooooooooooooo

                Aku tersentak kaget dari tidurku. Ternyata semuanya hanya mimpi. Sungguh aku sangat merindukannya. Merindukan oppa Jin Young. Dimana dia sekarang? Apa yang dia sedang lakukan? Ujarku dalam hati. Waktu masih menunjukkan jam empat pagi. Aku keluar dari doom kamarku tanpa bersuara, aku tidak ingin membangunkan unnie Krystal. Kulihat langit yang masih gelap memandangiku yang sedang duduk memeluk diri diatas batu besar. Angin pagi yang gelap ini menusuk-nusuk tubuhku. Bulan hampir masih terlihat jelas oleh mataku. Berharap sinarnya akan selalu hadir…

TO BE CONTINUED ….

 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2012 in FanFiction

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: