RSS

PART I – HOME

26 Jan

Senja mulai terlihat dipelupuk mataku. Aku hanya menghembuskan nafas keras sambil memandangi keluar jendela mobil yang menyusuri jalan sebuah kota besar di Amerika, dimana banyak gedung pencakar langit dan macam-macam alat penghibur. Seseorang menekan button play CD-ROM pada bag-mobil.

“Elisa..ini lagu favorit-mu..” ujar seorang wanita yang usia nya setengah baya. Dia ibuku, namanya Denisa Grance. Lagu yang sengaja ia putar merupakan lagu favoritku. Entah mengapa ia melakukan itu semua, apa karna aku akan tinggal bersamanya di kota besar ini? Aku hanya menatap datar  mendengar ucapannya.

Ingin sekali mengulang waktu. Aku sangat menginginkan kedua orang tuaku kembali bersama lagi. Sebelum Ego mereka datang, aku merasa seperti tinggal disurga, namun semua itu berubah menjadi malapetaka masa depanku. Pindahan ini adalah pindahan yang ke-10 kali dalam seumur hidupku, karna dikeluarkan dari sekolahku yang terakhir di London aku harus tinggal bersama Denisa. Ayahku, Jason Lance adalah Frances (orang Perancis). Aku sempat tinggal bersamanya selama 7 tahun. Namun sayangnya, aku benci dengan kebiasaannya yang mabuk-mabukan.

Aku turun dari mobil ketika mobil itu berhenti disebuah gedung yang aku rasa adalah gedung apartemen ala New York. Benar-benar megah. Aku sempat tidak yakin Denisa tinggal disini, namun Denisa melenggang masuk kedalam gedung ketika mobilnya lenyap dibawa petugas Valet apartemen. Aku mengikutinya dari belakang dengan menjinjing dua tas besar milikku. Ibuku menekan tombol in lift. Sejujurnya, aku kagum karna ibuku bisa tinggal diapartemen mewah ini. Pintu lift terbuka, ibuku masuk diikuti denganku.

Selama didalam Lift, ibuku mengajakku bicara. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia. Apa mungkin karna aku dan dia bertemu, setelah 9 tahun tidak bertemu? Aku tidak mengerti sifat ibuku dengan baik. Itulah aku, seseorang yang tanpa ekspresi,dingin,dan arogan.

“Elisa, kau mau makan apa?” tanya ibuku dengan senyuman merekah dibibirnya sambil pergi kebilik dapur. Aku hanya berdiri disebuah ruangan yang aku rasa adalah ruang televisi, karna disana terdapat dua buah sofa putih, satu meja kaca, dan macam-macam peralatan stereo juga satu televisi besar yang berkilau. Ibuku menghampiriku dengan membawa segelas sirup berwarna merah.

“Thanks” ujarku tanpa ekspresi. Ibuku hanya tersenyum ingin mencairkan suasana. Aku melemparkan pandanganku kearah sebuah mini bar disudut ruangan tersebut. Banyak sekali macam-macam minuman beralkohol. Entah apa yang akan kulakukan lagi ketika melihat ibuku akan mabuk karna meminum semua minuman itu.

“Ada apa,honey?” tanya ibuku ketika aku masih memandangi mini bar itu. Aku hanya diam lalu melihat kearahnya.

“Aku tidak minum. Semua itu milik suamiku, Dan.” Ujarnya terdengar sepertinya menjelaskan sesuatu kepadaku. Aku hanya menenggak sirup yang kugenggam didalam gelas hingga habis.

“Aku tidur dimana?” ucapku sambil mengusap bibirku karna tetesan sirup itu mengotori sekitar bibirku.

“Diatas ada dua kamar. Kau naik tangga lalu setelah itu belok kekanan. Kamarmu pas diujung..” jelas ibuku. Tanpa basa-basi lagi, aku menjinjing kedua tas-ku lagi lalu pergi menuju kamarku. Terdengar ibuku hanya menghembuskan nafas kecewa. Aku tidak perduli.

Dengan cepat aku menaiki tangga lalu memandangi sekitar daerah disana. Aku sedikit bingung ketika melihat kamar pas diujung mataku dan dibelakangku. Aku menghampiri kamar diujung mataku itu. Aku terkejut ketika seseorang keluar dari sana. Seorang laki-laki sebaya denganku. Berambut hitam kecoklatan, tinggi, memakai sebuah jaket hitam American football dengan snaker merah. Dia tersenyum padaku, namun aku tetap tidak berekspresi. Dengan langkah malas aku berbalik badan dan melangkah kearah kamar dibelakangku.

“Hei, wait!” tukasnya menghampiriku lalu menepuk pundakku. Aku menoleh kearahnya dengan malas.

“Hmm..kau pasti Elisa…” ujarnya lagi lalu tersenyum kepadaku.

“Yes, I am…” jawabku malas.

“Aku Mike…putra dari Wesley suami ibumu sekarang…” ujarnya lalu menyodorkan tangannya. Aku memutar bola mataku lalu berbalik dan berjalan seolah aku tidak mendengarnya lalu masuk kedalam kamar.

Kupandangi daerah sekitar kamar baruku. Sangat rapih, harumnya segar, dan…bagus. kamar ini jauh lebih baik dari kamarku sebelumnya. Aku duduk diatas ranjang putih besar. Sangat menyenangkan memiliki kamar seperti ini. Kurebahkan tubuhku lalu memejamkan mata. Beberapa saat ku pejamkan mata, lalu membukanya kembali. Aku terkejut karna wajah seseorang memandang sangat dekat dengan wajahku. Sontak aku bangkit dan berdiri didepannya. Mike Wesley. Ternyata dia menyebalkan.

“Maaf mengganggumu…Denisa menyuruhku untuk mengajakmu makan malam.” Ujar Mike dengan style Amerika. Aku hanya menatapnya datar.

“Ahh…maaf sekali lagi. Aku tau apa salahku…” ujar Mike lalu beranjak pergi.

“Hey! Katakan pada ibu aku tidak lapar…” ucapku lalu masuk kedalam kamar mandi. Kudengar suara pintu tertutup, yang berarti Mike sudah keluar.

Aku menatap diriku dicermin dengan datar. Aku mencoba mengerti siapa aku ini. Tapi, aku pun tidak mengerti. Aku hanya mengerti, aku ini adalah seseorang yang menyebalkan, dan kejam. Wanita dengan penuh sejuta kesialan yang menyebabkan kedua orangtua ku tidak berpisah. Seseorang mengetuk pintu kamar mandi, membuyarkan pikiranku. Aku menoleh kearah pintu dengan malas, kuhampiri pintu tersebut. Ternyata Mike lagi. Aku menghela nafas berat. Mike menggerakkan kepalanya kearah meja kecil dekat meja belajarku. Ternyata senampan makanan disana. Segelas lemon tea, nasi dengan filet ayam goreng mentega, dan….Lollipop? tanyaku dalam hati lalu melirik kearah Mike yang berdiri didepanku dengan sejuta kebahagiaan.

Aku menghampiri meja kecil tersebut lalu memperhatikan semua makanan itu terutama Lollipop. Aku menoleh kearah Mike sambil menunjukkan Lollipop itu. Mike hanya tersenyum. Aku memasang wajah tanpa ekspresi.

“Kau jangan salah paham, Eli. Itu tanda pertemanan kita…” ujar Mike dengan nada ragu-ragu. Aku menaruhnya dilaci meja belajarku.

“Thanks. Kau bisa mengambil semua makanan ini. Katakan sekali lagi padanya, aku tidak lapar..” ujarku lalu menyambar tasku dan mengeluarkan pakaianku dan memasukkannya kedalam lemari.

“Hmm..baiklah. nanti aku sampaikan…” ucap Mike lalu menghampiriku dan ikut duduk diatas ranjang sambil memperhatikanku membereskan pakaian.

“Kau cantik…..” ucapnya lembut lalu tersenyum ketika aku melirik sinis kearahnya. Aku tidak memperdulikan ucapannya. Aku terus melanjutkan kegiatanku.

“Kau tau Elisa? Di New York tidak ada wanita seperti dirimu. Jadi kau harus berhati-hati…” ucap Mike lalu berdiri.

“Aku…” ucapku ragu. Mike menoleh kearahku.

“Dimana sekolah baruku?” tanyaku masih ragu. Mike terkekeh.

“Kau akan tau besok pagi…” ujar Mike lalu pergi begitu saja.

Aku memutarkan bola mataku dan mendesis sebal ketika melihat senampan makanan yang masih berada diatas meja kecil dikamarku. Aku melenggang meninggalkan makanan itu dengan acuh.

 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2012 in ELISA

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: