RSS

Sincere Desire part 1

26 Jan

Desire 1Pertemuan….

Tokyo, 01 oktober 2009

Kecelakaan mobil yang terjadi pada saat itu takkan pernah dilupakan oleh siswa Tokyo International High School, Ryutaro Morimoto. Bersama adiknya Shintaro Morimoto menjalani hidup ini untuk mempertahankan perusahaan keluarganya yang telah ditinggalkan oleh ayahnya yang meninggal pada kecelakaan mobil itu. Ryu berjanji akan menjaga dan melindungi adiknya serta perusahaan ayahnya. Sebenarnya Tokyo International High School adalah salah satu milik keluarga Morimoto. Tapi, Ryu tidak ingin rakyat tau tentang hal itu. Ryu memutuskan untuk menjadi siswa disekolah milik ayahnya, agar dia dapat mengetahui sekolah tersebut dari dalam.

Warisan yang diberikan oleh ayah Ryu semata tidak hanya untuknya, tetapi untuk adiknya juga, Shintaro. Ryutaro memiliki hak atas semua harta ayahnya. Sedangkan adiknya hanya memiliki 200 hektar perkebunan teh dan kopi, juga  Villa didaerah pergunungan yokohama. Jujur saja, mereka adalah anak anak kaya yang bisa mengalahkan para pejabat tinggi diJepang.

Ryutaro adalah anak yang angkuh, pendiam, dan sedikit arogan. Tetapi, dibalik semua sifatnya yang seperti itu, dia juga termasuk anak yang baik, pintar, dan bijaksana. Ia sengaja menjadi Ryu yang angkuh, agar semua kesedihannya tidak terlihat oleh semua orang. Sedangkan Shintaro yang masih duduk dibangku SMP, adalah seorang anak yang aktraktive juga periang. Tapi semenjak kedua orang tuanya meninggal, ia lebih sering berdiam diri didalam kamar untuk membaca buku. Mereka tidak hanya tinggal berduua dengan segudang harta peninggalan. Ryu dan Shin tinggal bersama beratus-ratus pekerja. Mereka juga diwakili oleh paman mereka yang jahat.

Cuaca hari ini sedang indah. Tapi, tidak untuk Ryu. Ia mulai berceloteh kepada semua pekerja dirumahnya pagi ini. Dengan bertolak pinggang, Ryu terus berceloteh tidak karuan.

“Sudah kukatakan! Tidak ada yang boleh masuk kedalam kamarku!” sentaknya.

“Maaf tuan muda, tapi kami memang tidak pernah masuk kekamar anda tuan. .” ujar ketua pekerja yang umurnya sudah hampir mendekati kematian. Ryu menatapnya dengan tajam dengan rahang yang mengatup keras. Semua pekerja menunduk dalam.

“Bukan mereka yang masuk kekamarmu.” Ujar Shintaro yang menuruni tangga. Ryu masih menatap para pekerja. Sedangkan para pekerja menoleh kearah Shintaro.

“Jangan membela mereka, Shintaro…” ucap Ryu datar.

“Aku tidak membela mereka. Ini..” ujar Shintaro sambil menyodorkan buku yang berjudul ‘THE ONE’ kepada Ryu. Ryu menerima lalu menoleh kembali kearah para pekerja yang masih menunduk. Lalu tanpa basa basi ia berbalik dan beranjak dari tempatnya.

“Hey, kau egois. Minta maaf ke mereka kakak.” Ujar Shintaro mencegah Ryu yang ingin menghampiri tangga. Ryu menoleh.

“Kalian.. maaf..” ucapnya datar dan melirik kearah Shintaro yang tersenyum lebar, lalu menaiki tangga dan hilang dari pandangan Shintaro juga para pekerja.

“Terima Kasih banyak tuan muda Shin..” cetus salah satu pekerja kepada Shintaro. “Ya..Terima kasih banyak tuan muda Shintaro..” semua pekerja bersorak. Shintaro hanya membalas dengan senyuman.

………………………………..

Suasana hati Ryu sepertinya sudah berubah dan kembali menjadi Ryu yang pendiam. Sejak menaiki mobil silvernya, Ryu sama sekali tidak membuka mulut. Ryu begitu serius dengan buku yang dibacanya. Shintaro menoleh kearah Ryu berkali kali, tapi Ryu masih dengan posisinya, diam dan tidak bersuara. Shintaro mengeluarkan laptopnya, lalu bermain game kesukaannya. Terkadang Shintaro tertawa, tapi tidak membuat Ryu membuka mulut. Sampai didepan gerbang Tokyo International High School, Ryu beranjak keluar. Sebelum menutup pintu ia berkata ‘have a nice day, Shin’ setiap hari kepada Shintaro. Shintaro hanya membalas ‘you too’. Lalu Ryu masuk kedalam gedung sekolah.

Ketika Ryu sedang berjalan dikoridor sekolah sambil membaca buku, tiga orang siswa yang menurut Ryu sangat tidak asing menghampirinya. Ryu hanya menghela nafas panjang. Mau apa dia? Pagi-pagi begini sudah naik darah. Gumam Ryu.

“Hei !!!” ujar salah satu dari mereka.

Dia berperawakan keren dan tampan. Tetapi sikapnya tidak pantas untuk ditiru. Namanya, Yamada Ryosuke. Dia seorang artis muda paling terkenal di Jepang. Didambakan oleh semua siswi Tokyo International High School. Ryosuke merupakan musuh terbesar Ryu. Walaupun Ryu tidak berpikir Ryosuke adalah musuhnya, tetapi sikap Ryosuke yang menyebalkan itu membuat Ryu sangat membencinya. Ryosuke tidak pernah sendirian. Dia selalu ditemani dua orang sahabatnya, tetapi Ryu melihat mereka seperti pengikut setia Ryosuke. Mereka bernama Chinen Yuri dan Nakajima Yuto.

Terlihat sangat jelas, Chii dan Yuto sedang berusaha menenangkan Ryosuke yang menghampiri Ryu dengan rahang mengatup keras.

“Sudahlah, Ryo… jangan berkelahi disini..” ujar Chii dengan wajah imutnya.

“Chii benar Ryo..sudahlah..” sahut Yuto. Tetapi semua itu sia-sia. Ryosuke tidak mendengarkan mereka. Dia tetap berjalan menghampiri Ryu dengan tatapan yang tidak menyenangkan.

“Mau apa kau?” ujar Ryu ketika Ryosuke sudah benar-benar dihadapannya.

“Apa yang kau lakukan dengan Proyek Seni ku??!!!”  tukas Ryosuke sangat marah.

“Aku tidak melakukan apapun..” ujar Ryu dengan tatapan menantang Ryosuke. Ryosuke  ingin melayangkan tinjuan kewajah Ryu, tetapi segera Yuto menahan Ryosuke.

“Sudahlah Ryo…ini bisa dibicarakan baik-baik. Jangan memakai kekerasan. Kau bisa mendapat peringatan dari ketua komisaris..” ujar Yuto.

                Sungguh menggelikan sekali untuk Ryu. Ucapan Yuto membuat Ryu tertawa setelah kepergian mereka. Peringatan ketua Komisaris? Ujar Ryu mengulang perkataan Yuto tadi. Tidak sadarkah mereka? Yang mereka tantang tadi adalah ketua Komisaris. Ucap Ryu geli. Aku adalah komisaris mereka. Ucap Ryu datar. Lalu melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya.

                Didalam kelas, Ryu merasa sangat tidak nyaman dengan percakapan siswi-siswi yang sangat histeris. Dia menutup bukunya dengan keras, tetapi mereka semua tidak menggubris sikap Ryu. Ryu melupakan sesuatu. Dia sedang tidak berada dikediamannya yang dimana mereka semua mengetahui siapa Ryu sebenarnya. Akhirnya Ryu berjalan keluar kelas. Dia melihat sebuah poster besar menempel dimading sekolahnya. Poster model pendatang baru, sangat cantik dan anggun. Ryu memperhatikannya baik-baik, tetapi itu semua buyar ketika suara kerumunan mulai terdengar ditelinganya. Dia menoleh kearah lapangan basket. Dia melihat ulah anak-anak yang menyebalkan. Sekarang siswi baru itu yang kena. Ujar Ryu dalam hati.

                Pemandangan yang sangat menyebalkan untuk Ryu. Seorang siswi baru yang bernama Rei Matsuyama itu sedang dikerjai habis-habisan, karna dia hanya murid beasiswa sekolah. Ryu melihatnya belumuran telur dan tepung disekujur tubuhnya. Ryu merasa heran ketika melihat Rei Matsuyama hanya terdiam dan menatap mereka satu per satu. Dari kejauhan Ryu melihat Ryosuke, Chinen dan Yuto mentertawakan Rei. Aku rasa itu ulah mereka. Ujar Ryu dalam hati.

                Ryutaro berjalan menghampiri Rei Matsuyama, yang masih berdiri dan terdiam menatap semua orang yang mentertawakannya. Ryu menarik tangan Rei dan meninggalkan kerumunan yang seketika hening karna kedatangan Ryu. Ryu membawa Rei kesebuah ruang olahraga, dan memberikan Rei sebuah baju dan menyuruh Rei untuk membersihkan badannya.

“E?” ujar Rei ketika Ryu menyodorkan sebuah seragam baru kepadanya.

“Ini seragam baru untukmu. Mandilah…aku tidak ingin melihat murid sekolahku diperlakukan seperti ini…” tukas Ryu kepada Rei. Rei hanya mengangguk bingung.

“Arigatou….” Ucap Rei sebelum masuk kedalam bilik kamar mandi. Ryu hanya memandangnya.

                Ryu menunggu Rei sambil memainkan bola basket disekitar Hall room itu. Rei menghampiri Ryu. Ryu memberhentikan permainannya lalu duduk disebuah bangku panjang diikuti Rei.

“Apa mereka tau kalau kau adalah ketua Komisaris?” ujar Rei kepada Ryu. Ryu menggelengkan kepala.

“Mengapa kau tidak memberitahu mereka?” sambung Rei.

“Aku rasa itu tidak berguna untuk mereka…” ucap Ryu menatap lurus. Rei hanya diam. “Bisakah kau menjaga rahasia ku ini??” ujar Ryu kepada Rei. Rei mengangguk.

“Ohh ya…hati-hati dengan murid yang bernama Ryosuke…” ujar Ryu kepada Rei. Rei mengerutkan keningnya.

“Mereka yang melakukan semua ini. Jadi kuperingatkan kau untuk berhati-hati….” Ucap Ryu lalu pergi meninggalkan Rei.

                Rei Matsuyama berfikir keras. Ryosuke bukan nama yang asing untuknya. Dia terus berfikir sepanjang jalan koridor. Tiba-tiba, Ryosuke, Chinen, dan Yuto menghampirinya. Rei menatap mereka dengan sangat aneh.

“Ada apa?” ujar Rei ketus. Ryosuke menatap Rei dengan pandangan sangat menyebalkan.

“Jangan terlalu kasar padanya..” ucap Chinen pada Ryo. Ryosuke memandang Chii dengan sangat tidak suka. Chii hanya memanglingkan wajahnya.

“Kau gadis miskin…jangan berharap banyak bisa mendapatkan hati Ryu..” ujar Ryo sangat menganehkan. Chii dan Yuto saling pandang-pandangan.

“E? apa maksudmu??” ujar Rei kebingungan.

“Tadi kulihat Ryu menolongmu dari kejadian memalukan dilapangan basket. Apa kau tersanjung dengan kelakuan Ryu yang sok pahlawan itu?” tukas Ryosuke yang membuat Rei semakin bingung setenga  mati.

“Apa yang kau bicarakan? Kau ini gila rupanya…” ujar Rei yang membuat Ryosuke terkejut. Tanpa basa basi lagi, Rei pergi meninggalkan Ryosuke, Chii, juga Yuto.

                Ryosuke menatap Rei yang berjalan semakin menjauhi mereka. Tatapannya sangat tidak wajar. Ryosuke terlihat seperti ingin mengetahui seseuatu dari gadis itu.

“Hai!!” ujar seorang gadis kepada mereka bertiga. Namanya Victoria Kei. Dia sangat maniak dengan Ryosuke, Yuto, terutama dengan Chii.

“Hai..Vic..” ujar Yuto dengan raut wajah aneh. Chii langsung berpura-pura tidak melihatnya.

“Chii..bagaimana kabarmu hari ini?” ujar Victoria kepada Chii dengan gaya centilnya.

“Aaa..aku baik…” ucap Chii ragu-ragu. Ryosuke hanya tersenyum geli, begitu pun dengan Yuto. Chii hanya menggaruk-garuk kepala.

“Victoria..bisakah tidak menggangguku sehari saja..” ujar Chii kepada Victoria yang membuat Chii ingin lari sekencang-kencangnya darisana.

“Hmmmffptt…” tukas Ryo dan Yuto menahan tawa. Wajah Victoria berubah, mulai memerah dan tidak bisa berkata apapun. Dia sangat malu, dan memutuskan untuk pergi darisana. Daripada tetap bertahan dipermalukan mereka.

…………………………………………….

Jalanan Tokyo memang sangat tidak mendukung akhir-akhir ini. Kemacetan dimana-mana. Membuat jenuh dan jengkel orang-orang. Itu semua yang sekarang sedang dirasakan seorang gadis dan  ternyata seorang model yang sedang marak-maraknya dibicarakan. Namanya Hannah Jessica. Model belasteran Prancis, yang hari ini harus cepat-cepat mengikuti rapat pertemuan. Berkali-kali dia tekan klakson mobilnya, dan sesekali ia lirik jam tangannya. Akhirnya macet itu dilaluinya.

                Dengan cepat Hannah menaiki Lift dan ia tekan angka 3 pada button dilift itu. Didalam lift ia merapihkan dandanannya. Akhirnya dia sampai ditujuan.

“Hmm..maaf saya terlambat…” ujar Hannah sambil membungkukkan badannya. Semua orang memandanginya.

“Hannah..” ujar seseorang. Hannah sontak melihat kearah suara. Suara itu tidak asing didengar oleh Hannah. Wajahnya terlihat terkejut.

“Keito ?”

to be continued…

 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2012 in Sincere Desire

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: