RSS

Sincere Desire part 4

26 Jan
“Aku akan segera kesana… “ Ujar Ryu lalu menutup teleponnya. Dia bergegas ke lobby dan langsung masuk ke mobilnya. Mobil itu melaju ke arah pusat kota Tokyo.
                Sial!! Pikir Ryu dalam hati. Dia sangat kesal dengan posisinya yang sangat terlalu penting di perusahaan. Padahal malam ini seusai ia menghadiri acara fanmeet ia telah berjanji kepada Shintaro untuk menemaninya nonton pertandingan sepak bola melalui tivi satelit. Ya, MU vs Barcelona. Barcelona merupakan club sepakbola andalannya Shintaro.
                Orang-orang yang parah. Tidak mengerti ini jam berapa, hari apa, tetap saja bekerja. Apa mereka tidak punya keluarga? Seharusnya mereka pulang dan makan malam bersama keluarga mereka dirumah. Ryu pun mengambil handphonenya dan langsung menelfon Shintaro.
“ haloo .. “ jawab suara diseberang sana.
“ hai Shin, ini aku Ryu. Mmm… “ jawab Ryu dengan nada yang penuh penyesalan.
“ kenapa Kak? Kau sudah ingin pulang? Aku sudah membelikan cemilan untuk pertandingan yang akan kita tonton malam ini”  ujar Shin dengan penuh semangat.
“ begini Shin, mmmh.. sepertinya malam ini aku tidak bisa menemanimu menonton. Aku di telfon oleh para Dewan agar segera datang ke kantor karena ada urusan yang harus diselesaikan. Aku minta maaf, Shin. Ini sangat tidak terduga. “ jawab Ryu dengan nada yang datar.
“ Oh… tidak apa-apa kak. Aku harap kau tidak terlalu terbebani dengan hal tersebut. Asal kau sehat aku sangat bahagia… “ ucap Shin. Suaranya agak sumbang. Jelas sekali terdengar rasa kekecewaan dari suara Shin.
“Shin, aku minta maaf. Lain kali pasti aku akan menemanimu menonton liga andalanmu itu. Atau kau mau aku buat agar pertandingannya ditunda besok? “ ujar Ryu masih datar.
“Hahahaha.. tidak perlu kak. Aku tidak apa-apa. Aku harap kau tidak pulang terlalu larut.. “ jawab Shin riang.
“Baiklah.. kau juga, jangan tidur terlalu malam. Aku menyayangimu, Shin. Good night.. “  ucap Ryu mengakhiri pembicaraannya.
“ Good night too.. “ Shin menutup telfonnya. Ia memang agak sedikit kecewa. Namun ia harus mengerti bahwa semata-mata yang bisa diandalkan hanyalah kakaknya tercinta. Yang bisa Shin lakukan hanya mendukung Ryu dengan sepenuh hati. Ia yakin bahwa apapun yng dilakukan Ryu, adalah untuk kebaikan keluarga Morimoto.
                Shin lalu mengambil cemilan yang ada di lemari es. Duduk di sofa  yang empuk diseberang televisi. Mata Shin memang tertuju pada pertandingan yang akan segera dimulai. Namun perasaannya masih gelisah. Ia merasa teramat sedih. Tak terasa pipinya pun basah. Ia menangis terisak di depan televisi. Perasaannya kacau. Ia sangat ingin ditemani oleh kakaknya saat ini, namun di lain sisi ia harus mengerti bagaimana dan apa yang harus dilakukan sepeninggal orang tuanya.
                Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya. Shin berusaha menghentikan tangisannya dan mengusap air matanya.
“Tidak apa-apa, Tuan Muda Shin.. aku pun dulu pernah merasakan bagaimana menjadi anak seusiamu.. “ ujar Matsuo Morimoto. Ia adalah adik laki-laki dari ayah Ryu dan Shin. Ia juga merupakan wali dari Ryu dan Shin.
“Haha.. bukan begitu paman. Seharusnya laki-laki kan tidak boleh menangis.. “ ucap Shin terisak. Shin menahan tangisnya.
“Siapa yang mengajarkanmu hal seperti itu?” Tanya Paman Matsuo bingung.
“Ayah. Kak Ryu juga. Aku selalu ingin bisa menjadi seperti mereka. Tapi aku .. “ Shin masih berusaha menahan tangisnya.
“Shin, dengarkan aku. Aku ada disini untuk menjaga kalian berdua. Dan aku pun juga ingin kau menjadi seorang yang kuat. Tetapi, semua itu butuh proses. Saat Ryu tidak ada, aku akan menemanimu. Aku adalah pamanmu, bagian dari keluargamu. Aku tidak perlu melihat Shin yang harus tegar karena urusan bisnis. Tapi aku ingin melihatmu sebagai seorang anak yang memang jika sedih ia harus menangis. Aku adalah ayah baptismu Shin, akulah tempat dimana kau bisa mencurahkan semua isi hatimu.. “ papar Matsuo. Suaranya lembut dan penuh dengan keyakinan.
“ Benarkan begitu, paman? Aku boleh menangis di depanmu? Kau tidak akan menganggap aku sebagai laki-laki yang cengeng kan? Hiks.. “ Shin mulai menangis lagi.
“ Tentu saja tidak, Shin. Kau adalah anakku sekarang.. “ jawab Matsuo sambil merangkul Shin. Shin pun memeluk Matsuo dengan erat. Ia menangis di bahu pamannya itu. Ia merasa sangat lega karena kehadiran pamannya. Walaupun yang dia inginkan sebenarnya tetaplah Ryu.
………………………………………..
                Pagi yang cerah, namun tak secerah suasana hati Rei. Ia bersumpah akan membalas semua perbuatan keji Ryosuke. Sebenarnya ia tak ingin mencari keributan di sekolah itu. Ia sadar bahwa ia hanyalah siswi beasiswa. Ia tak ingin beasiswanya dicabut hanya gara-gara perbuatan balas membalas yang kurang penting itu. Namun dendamnya sudah sangat melampaui batas kesabarannya. Rei akan membalas Ryo dengan caranya sendiri.
                Ketika Rei dan Kenichi sedang sarapan bersama, Kenichi bertanya tentang fanmeet party semalam. Rei hanya terdiam. Kenichi merasa ada sesuatu yang tidak beres dari raut wajah adiknya itu. Kenichi berdeham.
“Ketika aku pulang, kau sudah tertidur…kau pulang bersama siapa?” ujar Kenichi sedikit mengorek-ngorek kejadian semalam. Rei hanya memandangi mangkuk nasinya.
“Hmm..aku diantar Chii..” ucap Rei ragu.
“Tadi pagi  ketika aku membereskan baju kotor, aku melihat bajumu semalam kotor dengan noda makanan… apa terjadi sesuatu?” Tanya Kenichi kepada Rei.
“Aku sudah terlambat…aku berangkat dulu..” ujar Rei seperti tidak mendengarkan ucapan Kenichi lalu pergi meninggalkan Kenichi yang masih kebingungan.
“Kenapa dia?” ujar kenichi bingung lalu melanjutkan makannya.
                Rei memasuki gedung sekolah dengan langkah berat. Ia tidak yakin wajahnya bisa menebal ketika banyak siswa yang menertawakannya nanti akibat kejadian semalam. Rei memukul-mukuli kepalanya sebagai hukuman kecil karna telah mempercayai Ryosuke. Ketika berjalan dikoridor banyak yang memandanginya dan mereka mulai berbisik-bisik sambil tertawa. Rasanya ingin sekali Rei meninju wajah mereka semua. Apa mereka bahagia melihat penderitaanku itu? Ujar Rei dalam hati. Sekali lagi ia memukul kepalanya sendiri untuk menyadarkan dirinya itu. Bodoh! Mereka tidak akan perduli dengan kondisiku sekarang. Gumam Rei didalam hati lagi. Wajah Rei kaku seketika Ryosuke menghampirinya.
“Pagi Rei…” ucap Ryo dengan sikap bodohnya itu. Mau apa dia? Kurang puas membuatku malu setengah mati diacara Fanmeet party itu? Ucap Rei dalam hati. Rei hanya terdiam memandang Ryo dengan tatapan ingin membunuhnya saat itu juga.
“Terima kasih sudah membuatku malu semalam. Kau sungguh manusia yang keji…” ujar Rei lalu pergi meninggalkan Ryo yang diam seketika.
                Pagi ini terasa penat diruang rapat agency Hannah. Mereka semua diam dan kelihatan sangat kebingungan. Hannah yang baru tiba, merasa aneh dan heran. Wajah mereka semua nampak frustasi sekali.
“Ada apa ?” ucap Hannah membuka pembicaraan.
“Hannah…maaf telah mengganggumu pagi-pagi..” tukas salah seorang dari karyawan.
“Iya tidak apa-apa. Hari ini aku tidak ada jadwal kuliah.. memang ada apa?” ujar Hannah sambil membenarkan posisi duduknya.
“Hmm..kita mendapat Job..” sahut salah seorang karyawan disana.
“Bagus bukan? Kita mendapat Job lagi..” ucap Hannah. Semua karyawan menghela nafas panjang.
“Masalahnya, perusahaan yang meminta jasa kita ini tidak memberitahu tentang konsep yang mereka mau..” ucap salah seorang karyawan lagi dengan wajah frustasi.
“Maksudnya??” ujar Hannah tidak mengerti.
“Jadi kita mendapat Job, tetapi tidak tau apa job kita itu..” tukas salah seorang karyawan.
“…….” Hannah hanya memandangi mereka semua tanpa bicara.
“Memang perusahaan apa?” Tanya Hannah ditengah-tengah keheningan.
“Perusahaan GreyFlame..” ucap seorang karyawan melemas.
“GreyFlame? Aku belum pernah dengar sebelumnya..” ujar Hannah.
“E? kau yakin Hannah?” sahut mereka. Hannah hanya menganggukkan kepala.
“GreyFlame adalah sebuah perusahaan besar yang terkenal di Jepang karna produk mereka yang berkualitas. GreyFlame itu milik keluarga Morimoto..” ujar salah seorang karyawan. Hannah yang mendengarkan mereka.
“Tapi….sekarang jarang sekali keluarga Morimoto terlihat dipertelevisian Jepang.. mungkin karna pewaris mereka yang sedang mengemban ilmu di Amerika ya?” sahut seorang karyawan lagi. Mereka mulai riibut  membicarakan keluarga kaya raya itu, sedangkan Hannah hanya memperhatikan mereka dengan wajah bingung.
                Hannah berfikir keras tentang keluarga Morimoto. Apa mereka sehebat itu? Ujar Hannah dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Hannah merogoh kantong saku celananya, lalu dilihat dilayar monitor handphonenya bertuliskan nama Keito. Hannah hanya berdecak lidah lalu menekan tombol Reject. Lalu masuk kedalam mobilnya.
                Keito mendesah kecewa dengan direjectnya telponnya tadi. Keito bingung apa yang harus ia lakukan dengan sikap Hannah yang sekarang cuek sekali. Keito mempunyai ide jika ia akan mengajak Hannah Candle light Dinner. Pasti Hannah akan memaafkannya. Hannah sangat menyukai suasana yang romantic.
                Mobil Hannah melaju kesesuatu tempat. Ternyata kesebuah toko roti. Hannah mendorong pintu masuk toko itu, lalu memilih-milih beberapa roti yang ia sukai. Seorang pelayan menghampirinya. Masih terlihat sangat muda pelayan ini. Ujar Hannah didalam hati.
“Silahkan nonna…” ujar pelayan itu sangat ramah lalu tersenyum kepada Hannah.
“Hmm..iya…” jawab Hannah terkadang melirik pelayan itu. Wajahnya sangat imut. Ujar Hannah didalam hati.
“Siapa namamu?” Tanya Hannah kepada pelayan itu. Terlihat sekali pelayan itu sangat kebingungan.
“Hmm..na..namaku Rei..” ucap Rei ragu-ragu. Hannah hanya menganggukkan kepala. Lalu merogoh tasnya.
“Ini…” ujar Hannah sambil menyodorkan sebuah kartu nama. Rei kebingungan.
“Apa ini?” Tanya Rei.
“Itu kartu nama agency tempat ku bekerja. Kami membutuhkan seorang model berwajah imut, untuk proyek kami… aku harap kau datang… besok lusa, digedung agency Starlight Entertaiment jam 8 pagi..” ujar Hannah lalu pergi ketempat pembayaran. Rei hanya memandangi kartu nama itu dengan wajah bingung.
                Hannah melesatkan mobilnya. Rei masih memandangi mobil Hannah hingga tidak terlihat lagi. Rei sangat merasa aneh. Hannah adalah artis terkenal, mengapa langsung percaya bahwa Rei bisa melakukan pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah Rei lakukan.
Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan untuk Rei. Karna Rei harus lembur ditoko Roti tempat sekarang dia bekerja. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Toko roti itu sepi seperti biasa. Rei hanya menopang dagu memandangi keluar jendela. Seseorang datang yang membuat Rei terkejut.
“Aa..Selamat Datang..” ujar Rei sambil membungkukan badan. Rei terkaget-kaget ketika melihat pelanggannya.
“Kau??” tukas Rei sambil menunjuk dengan mata membelalak.
“Mau apa kau kemari?” ujar Rei lagi dengan nada tinggi.
“Aku hanya ingin membelikan roti untuk sepupu ku…” ujar laki-laki itu yang ternyata Ryosuke. Ryosuke hanya memasang wajah datarnya.
“Aku tidak ingin rotiku dibeli dengan orang seperti dirimu!”  ujar Rei yang membuat semua karyawan memandanginya.
“Hei..aku ini pembeli. Anggap saja jika kita tidak saling mengenal…” ucap Ryosuke sedikit berbisik.
“Kau ini….” Ujar Rei geregetan lalu menghela nafas panjang.
                Lalu Ryosuke mulai menunjuk-nunjuk beberapa macam roti yang ada ditoko itu. Tetapi Rei melihatnya seperti memborong semua roti ditokonya. Rei hanya memandangi Ryosuke yang terus menerus tersenyum tidak jelas. Membuat Rei mual dan ingin pergi ketoilet. Setelah lama memilih, lalu Ryosuke membayar. Semua teman-teman Rei ditoko memperhatikan roti yang dibeli oeh Ryosuke. Semua terkejut ketika beberapa roti yang dibeli Ryosuke, diberikan kepada Rei. Rei hanya terdiam bingung, lalu Ryosuke pergi meninggalkan toko roti itu.
to be continued.. 
 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2012 in Sincere Desire

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: