RSS

Sincere Desire part 5

26 Jan
“Hai Hannah.. “ sapa Inoo kepada Hannah yang baru saja keluar dari kelasnya.
“ …. “ Hannah diam dan terus berjalan seolah Inoo hanya angin lalu. Tapi Inoo terus mengikutinya.
“ Aku tahu perbuatanku waktu itu menyebalkan, Hannah. Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku memaksamu untuk diantar pulang olehku.. aku juga seharusnya tidak perlu bertengkar dengan temanmu itu, yah siapapun namanya… “  lanjut Inoo dengan penuh rasa penyesalan.
“Keito. Namanya Keito. Dia bukan temanku tetapi dia sahabatku.. “ jawab Hannah datar.
“Yah, aku tidak begitu mahir dalam mengingat nama orang lain.. Hannah, aku benar-benar minta maaf.. “ ujar Inoo lagi. Kali ini mereka saling berhadapan. Inoo memandang Hannah dengan sangat serius.
“Senpai, aku sudah memaafkanmu. Tapi aku mohon, jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi. Perbuatan itu benar-benar menyebalkan.. “ ucap Hannah sambil tersenyum.
“Iya, aku berjanji, Hannah…. “ jawab Inoo cepat. Ia lalu memegang tangan Hannah. Hannah terlihat bingung dan canggung.
“Hannah, akuu…. “ kalimat Inoo terputus karena deringan handphone-nya. Ia pun segera melepas tangan Hannah dan mengambil handphone dari sakunya. Victoria calling. Sial!! Decak Inoo dalam hati.
“Hannah, tunggu sebentar.. adikku menelfon.. aku jawab telfon dulu, aku mohon kamu tunggu disitu, karena masih ada yang ingin aku bicarakan denganmu” ujar Inoo kepada Hannah. Hannah hanya mengangguk.
“Halo. “ Inoo menjawab telfon dari adiknya.
“Kak, jemput aku sekarang juga!! Kau kan sudah berjanji untuk menemaniku shopping hari ini. Jangan bilang kau lupaa.. “ balas Vic dengan nada manja.
                Oh, God!! Aku merasa tidak pernah menjanjikan hal semacam itu kepada Vic. Bagaimana ini?? Shit. Inoo bergumam dalam hati. Ia sangat bingung. Baru saja ia ingin mengajak Hannah makan siang bersama, tapi ternyata ia melupakan janjinya dengan Vic.
“Vic, sepertinya kalau hari ini aku tidak bisaa.. “ ucap Inoo dengan suara yang agak pelan. Sesekali ia melirik kearah Hannah yang sedang menunggunya. Ia tidak mau Hannah tau masalah janji dengan adiknya ini.
“APAAA??!! Kau kan sudah janji, kak!! Aku tidak mau tau!! Aku harus shopping hari ini. Titik!! Apapun alasanmu aku tidak perduli!!” bentak Vic kesal.
“tapi Vic, dengarkan akuu dulu.. aku.. “ lagi-lagi kalimat Inoo diputus. Vic langsung menutup telfonnya begitu saja. Tuhan, beri aku jalan keluar. Hanya itu yang bisa Inoo harapkan saat ini.
                Ia pun kembali kepada Hannah yang menunggunya sambil membaca sesuatu di papan pengumuman di dekat situ. Hannah mengetahui apa yang terjadi. Tapi dia memilih diam karena memang itu bukan urusan Hannah.
“ehm, Hannah, apa kau ada jadwal shooting setelah ini?’ Tanya Inoo.
“tidak. Memangnya kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya? ‘ Hannah agak bingung.
“begini, sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Tetapi adikku ingin agar aku menemani dia shopping hari ini. Hmmm, aku sedikit bingung, .. “ jawab Inoo.
“kenapa? Kau kakak yang baik sekali mau menemani adikmu. Aku tidak keberatan kalau pembicaraan kita dilanjutkan besok.. “ ujar Hannah.
“tidak bisa Hannah. Aku ingin membicarakannya hari ini juga.. bagaimana kalau kau ikut denganku dan adikku? Adikku bisa shopping bersama denganmu dan aku bisa menemani kalian berdua.. “  ucap Inoo.
“aku tidak masalah. Aku free hari ini. Tapi bagaimana dengan adikmu? Apa dia tidak risih dengan ikutnya akuu?… “ Hannah terlihat bimbang.
“ tentu saja tidak Hannah! Dia pasti akan senang. Lagipula dia juga merupakan salah satu fansmu. Dia sering menanyakan tentangmu kepadaku.. “ jawab Inoo antusias.
“ benarkah?.. “ Tanya Hannah sambil tersenyum.
“ Ya, Hannah. Jadi bagaimana? Kau ikut kan?.. “ Inoo memastikan.
“Baiklah.. “ jawab Hannah.
                Mereka pun langsung bergegas ke parkiran dan memasuki mobil Inoo lalu menuju ke Tokyo International High School untuk menjemput Victoria. Di dalam mobil Inoo sesekali melihat kearah Hannah. Hari ini Hannah memakai dress pendek sederhana dengan sepatu berhak 5cm. Rambutnya terurai begitu saja tanpa hiasan apapun. Wajahnya yang tanpa riasan tidak mengurangi rasa kagum Inoo kepada Hannah. Ya, Inoo sangat mengagumi Hannah sampai-sampai ia sangat ingin memiliki Hannah sebagai kekasihnya.
                Hannah melihat keluar jendela. Pemandangan kota yang penat benar-benar membuat risih. Handphone Hannah berbunyi satu kali. Ya, dering pesan. Hannah membuka pesan tersebut. Keito. Sudah tiga hari ia tidak berhubungan dengan Keito. Rasa rindu yang Hannah rasakan membuatnya membalas pesan tersebut.
                “Hannah, apa kau masih marah padaku? Aku benar-benar menyesal atas kejadian waktu itu. Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku? Aku merasa sangat bersalah. Aku rindu padamu, Hannah. By, Keito.”

                Hannah masih memutar otaknya. Apa yang harus ia tulis? Ia memang rindu dengan Keito. Tapi apa harus mengatakan dengan sejujurnya? Hannah merasa malu untuk mengatakan apa yang ia rasakan.
                “Aku sudah memaafkanmu, Keito. Kau adalah sahabatku, aku tidak bisa berlama-lama marah denganmu. Hmm, kenapa tidak kau belikan saja es krim strawberry untukku? Mungkin aku bisa melupakan semua itu. Hehe. Aku juga merindukanmu. By, Hannah”

……………………………………………
“kenapa kau lama sekali sih, kak??!! Kau tau aku sangat benci menunggu!! “ ujar Victoria saat Inoo turun dari mobilnya.
“Maaf, Vic. Aku ingin menjelaskannya padamu tadi, tapi kauu langsung menutup telfonnya begitu saja.. “ jawab Inoo tenang.
“ ya, sekarang kau bisa jelaskan.. aku mendengarkan.. “ ucap Vic manja.
                Inoo membuka pintu mobilnya. Hannah keluar dari mobil dan langsung menhampiri Vic. Vic terlihat sangat terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Hannah datang bersama kakaknya.
“hai Victoria. Aku Hannah, salam kenal.. “ ucap Hannah sopan.
“haaii Hannah!! Aku Victoria Kei. Adik kandung dari Inoo Kei. Aku sangat tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini, Hannah!! “ ujar Vic riang.
“hahaha. Ya, aku tau. Inoo sering membicarakanmu padaku.. tentang adiknya tercinta.. “ sahut Hannah.
                Inoo hanya tersenyum. ia bersyukur hari ini keinginannya dapat tercapai. Yaitu menemani Vic shopping sekaligus makan siang bersama Hannah.
“ okey, Ladies. Bersiap untuk shopping kan? Sampai kapan kalian mau berdiri di sana. Lekas masuk ke dalam mobil. Sebelum banyak murid sini yang mengetahui keberadaan Hannah.. “ kata Inoo sambil membuka pintu mobil.
“ siaapp!! “ jawab Vic dengan gembira. Ia langsung menggandeng tangan Hannah dengan penuh keceriaan. Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil lalu menuju ke sebuah Mall di pusat kota Tokyo.
…………………………………………
Kejadian pemberian roti kemarin membuat Rei sedikit tidak memperdulikan Ryosuke lagi. Tingkah Ryo semakin aneh. Hampir setiap hari ia datang ketoko roti tempat Rei bekerja, menyapa Rei setiap pagi. Hari ini Rei sedang libur bekerja. Setelah pulang sekolah ia berjanji akan menemani Chii makan siang. Mereka berdua pergi dengan menaiki mobil sedan silver milik Chii. Sepasang mata menatap mereka berdua dengan tatapan mengancam. Ya, Ryosuke.
“Bagaimana hari mu disekolah Rei?” ujar Chii didalam mobil. Rei hanya tersenyum.
“Emmm…?? Lumayan…” ucap Rei. Chii hanya membalas senyuman Rei. Senyuman yang sangat manis. Jika senyum itu diperlihakan untuk para fans nya, Rei yakin mereka semua akan pingsan dengan nafas sesak yang berbunyi  ‘hiiiikk…ngiiikk…grroookk’ .
“Kau mau makan apa?” Tanya Chii sambil terus memandangi Rei.
“Hmm…terserah kau saja. Aku tidak pandai memilih makanan…hehe..” tukas Rei.
“Kau suka Steak?” ujar Chii kepada Rei. Rei hanya menggelengkan kepala.
“Lalu apa? Katakan…” ucap Chii bingung.
“Bagaimana kalau ramen?” ujar Rei. Mata Chii membelalak lalu tertawa.
“Kenapa tertawa?” Tanya Rei sedikit kecewa dengan respon Chii.
“Aa…haha…tidak apa-apa. Kau ini sangat lugu ya…” ujar Chii sambil mengusap rambut Rei yang terikat. Rei ikut tertawa.
                Nampaknya hari ini terlihat ketegangan diwajah Ryu. Dia hanya duduk sambil memandangi beberapa lembar kerjanya. Sesekali memutar-mutarkan pulpennya. Sepertinya Ryu sedang berfikir keras. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk kedalam ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu. Ryu memandangi laki-laki itu dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Lelaki itu bertubuh tinggi, lebih tinggi dibandingkan dengan tubuh Ryu. Rambutnya coklat kemerahan sedikit menyentuh pundaknya. Memakai Jas hitam dengan syal berwarna mencolok dilehernya. Dia adalah sepupu Ryu, Yuya Takaki.
                Ryu tidak menghiraukan kedatangannya. Ryu hanya memandangi lembar kerjanya itu. Yuya merasa tidak senang dengan sikap Ryu yang tidak memperdulikannya.
“Hei Ryu !!” ujar Yuya sedikit membuat gema diruangan tersebut. Ryu hanya menoleh kearahnya.
“Mau apa kau kemari?” ucap Ryu datar. Mata Ryu tersirat dia sangat tidak menyukai sepupunya ini.
“Aku hanya ingin menjenguk para sepupuku. Dimana Shin?” ucap Yuya lalu duduk disofa sambil membaca majalah disana.
“Kau tidak perlu menjenguuk kami. Kami baik-baik saja. Shin belum pulang…” tukas Ryu datar tapi terdengar ia sangat muak dengan kedatangan Yuya.
“Hmm…bagaimana dengan GreyFlame?” ujar Yuya lalu memandang Ryu yang sedari tadi hanya duduk memandangi keluar jendela.
“Mereka (GreyFlame) baik-baik saja…” ucap Ryu masih datar.
“Aku rasa kau kelelahan dengan semua ini..” ujar Yuya yang membuat Ryu dengan cepat menoleh kearahnya. “Jika begitu, aku bisa menggantikan posisi mu…” ucap Yuya sangat enteng.
                Ryu berjalan menghampiri Yuya dengan langkah berat dan wajah yang sangat serius. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.
“Kau tidak akan pernah mendapatkan apapun dari perusahaan ayahku..” ujar Ryu sambil menatap Yuya dengan tatapan yang mengecamnya. Yuya membalas tatapan Ryu dengan tatapan dendam. Ketika mereka sedang bertatap-tatapan, Shin datang dengan wajah bingung.
“Sedang apa kalian?” ucap Shintaro bingung. Dia masih memakai seragam sekolahnya. Ryu melepas tatapan tidak menyenangkan itu dari mata Yuya, lalu menghampiri Shin.
“Kau sudah pulang? Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu..?” ucap Ryu lembut.
“Hmm..ya. aku sudah mengetuk kak. Tetapi kau tidak menyahut. Maka dari itu aku langsung masuk.. maafkan aku…” ujar Shintaro dengan nada menyesal  sambil menundukan kepala.
“Tidak apa-apa Shin. Kau suudah mengetuk pintu bukan?” ucap Yuya yang membuat Ryu jengkel dengannya sekarang. Rahang Ryu mengatup keras. Yuya menghampiri Shin lalu mengusap kepala Shin. Ryu hanya berbalik dan melangkah menuju kursinya lagi.
“Keluarlah kalian jika tidak berkepentingan disini..aku ingin menyelesaikan pekerjaanku..” ucap Ryu kesal dan tidak menatap mereka.
“Kakak…..” ucap Shin lirih. Lalu Yuya menarik Shin keluar dari ruangan Ryu. Setelah pintu tertutup Ryu memandangi pintu itu dengan tatapan kecewa.
“Maafkan aku Shiin…” ujar Ryu juga lirih.
                Mall Tokyo Centre kelihatan sedang sepi. Tidak biasanya hal ini terjadi. Biasanya Mall ini dipadati oleh orang-orang yang ingin shopping. Inoo hanya memperhatikan Victoria dan Hannah yang sedang melihat-lihat pakaian. Inoo tersenyum melihat pemandangan ini. Ia sangat senang Victoria bisa menerima Hannah dengan cepat. Apa mungkin karna Hannah adalah seorang artis terkenal? Maka dari itu Victoria bisa menerima Hannah.
                Waktu untuk makan siang. Perut Inoo tidak dapat menahan rasa lapar lagi. Akhirnya Inoo, Hannah dan Victoria pergi kesebuah tempat makan makanan Seafood. Ketika mereka duduk, tiba-tiba mata Victoria membelalak terkejut. Ia melihat Chinen sedang bersama gadis miskin yang sangat ia benci. Yang dimaksud gadis miskin itu adalah Rei.
                Sedang apa mereka berdua? Ujar Victoria didalam hati. Mata Vic masih memperhatikan Chii dan Rei yang sedang tertawa. Terlihat sangat bahagia mereka. Hati Vic seperti terbakar, rasanya panas membara. Vic mengeratkan tangannya. Mata Vic berkilat-kilat kebencian.
“Vic?” ucap Inoo disampingnya. Victoria tidak menggubris ucapan kakaknya itu. Hannah  juga merasa aneh dengan sikap Victoria.
“Victoria..” ucap Hannah ikut menyadarkan Vic.
“Ahh..iyaa?” jawab Vic akhirnya. Inoo menghembuskan nafas perlahan.
“Aku kira kau kesurupan hantu Shopping…” ujar Inoo yang membuat Hannah geli.
“Jangan ngawur, kak. Kau membuatku malu didepan artis favorit ku…” ujar Vic manja lalu menggandeng lengan Hannah. Hannah hanya tersenyum.
                Victoria menoleh kearah Chii dan Rei duduk. Tidak ada? Gumam Vic bingung. Kemana mereka? Ujar Vic dalam hati. Victoria pamit untuk ketoilet. Ternyata Victoria mencari-cari kepergian Chii dan Rei. Wajahnya begitu gelisah dan cemas. Setelah lama mencari-cari, Victoria tidak menemukan mereka. Akhirnya Vic memutuskan untuk kembali ketempat makan, menemui Inoo dan Hannah.
to be continued.. 
 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2012 in Sincere Desire

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: