RSS

Sincere Desire part 6

26 Jan
Hari ini Ryu tidak masuk sekolah. Rei hanya memandangi bangku Ryu sesekali. Akhirnya pelajaran Matematika pun berlalu. Rei keluar dari kelasnya sambil memijat-mijat pelipisnya. Dia sangat jenuh dengan pelajaran Matematika. Sesekali Rei menutup mulutnya yang hampir beberapa menit menguap. Tiba-tiba Ryosuke menghampirinya. Mata Rei membelalak, dengan cepat dia menutup mulutnya yang sedang menguap dengan kedua tangannya.
“ada apa?!” ujar Rei ketus lalu celingukan mencari-cari seseorang dibelakang Ryosuke.
“Dimana Chii?” sambung Rei lagi. Ryosuke hanya menatap Rei sinis.
“Apa?! Kenapa menatapku seperti itu??” ucap Rei sangat ketus.
“Aku hanya mengatakannya sekali, maka dari itu dengarkan baik-baik. Aku ingin mengajakmu makan malam…” ujar Ryosuke yang membuat Rei kebingungan. “Malam ini, jam 7 tepat kau sudah didepan rumahmu. Aku akan menjemputmu. Dan ini….” Ucap Ryosuke panjang lebar sambil menyodorkan sebuah bingkisan.
“Apa ini? Lalu maksudmu makan malam apa?” ujar Rei sangat bingung.
“Tadi kan sudah kubilang, aku akan mengatakannya sekali…” tukas Ryosuke sedikit kesal lalu berbalik pergi.
“Heii!! Ryo!!” teriak Rei ketika Ryosuke hampir tidak terlihat.
                Cepat sekali dia menghilang. Gumam Rei didalam hati. Apa maksudnya ini? Kenapa mengajakku makan malam, dan memberiku bingkisan ini? Ujar Rei sambil memperhatikan bingkisan itu. Malam ini Kenichi sedang tidak bekerja. Kenichi sering melarang Rei pergi dengan lelaki dimalam hari. Karna Kenichi tidak mempercayai lelaki manapun ketika bersama Rei. Walaupun Rei pemenang juara umum Karate waktu SMP, tetap saja Kenichi merasa takut adiknya kenapa-napa.
                Ketika Rei tengah merogoh kantung saku seragamnya, ia mendapati sebuah kartu nama yang kemarin diberikan oleh artis cantik, Hannah Jessica. Rei memandangi kartu nama itu sambil menyusuri koridor. Rei memikirkan tawaran dari Hannah. Rei yakin, kakaknya tidak akan mengizinkan Rei menerima tawaran tersebut. Tetapi Rei sangat ingin mencobanya. Rei hanya berdoa agar Kenichi tidak parno seperti dulu.
                Setelah makan siang bersama kemarin, Hannah dan Inoo lebih banyak berbicara di kampus. Ketika ada waktu senggang, terkadang Inoo menemui Hannah setelah kelas usai. Hubungan Hannah dan Keito pun sudah membaik. Mereka sempat bertemu dirumah Hannah.
                Ketika Hannah sedang berbincang dengan Inoo dikantin kampus, tiba-tiba handphone Hannah bergetar dari dalam saku jaketnya. Ternyata Keito menelpon. Hannah meminta izin untuk mengangkat telpon kepada Inoo. Inoo hanya mengangguk lalu Hannah berjalan agak menjauhi Inoo.
“Hallo…” ucap Hannah sedikit berbisik.
“Hallo..” jawab Keito dengan suara tidak seperti biasanya. Hannah mengerutkan keningnya.
“Kau kenapa Kei? Apa kau sakit?” ujar Hannah cemas.
“Emmm..ya.. aku terkena flu dan demam. Seharian inii aku terbaring ditempat tidur…” ucap Keito lemas. Hannah terkejut.
“Keito! Kenapa tidak memberitahuku?!!” ujar Hannah sedikit membentak yang membuat Inoo menoleh kearahnya dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Hahaha..kau berlebihan Hannah..aku hanya sakit ringan, hanya butuh istirahat yang cukup…” ujar Keito dengan suara yang lebih lemah dari sebelumnya.
“Kau membuatku cemas Kei…” ucap Hannah menahan air matanya.
“Heii..Heii…sudahlah…hmm..Hannah, apa kau bisa ke apartemenku sekarang? Aku butuh bantuan mu. Siang ini aku belum makan. Tubuhku tidak mampu berjalan sampai kedapurku. Tadi pagi aku sudah mencoba membuat bubur, ternyata buburnya berubah menjadi air karna terlalu lama mendidih..hehe” jelas Keito lalu terdengar suara batuk.
“Baik…aku akan kesana segera!” ujar Hannah lalu menutup telponnya.
                Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Keito dengan segera Hannah menghampiri Inoo tergesa-gesa. Inoo terlihat sangat kebingungan.
“Ada apa?” ujar Inoo heran. Hannah hanya tersenyum.
“Maafkan aku senpai, tetapi aku harus segera ke apartemen Keito..sampai jumpa..” ucap Hannah lalu pergi meninggalkan Inoo yang masih memandanginya dari kejauhan.
                Hannah melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga ia hampir menabrak seorang pengendara sepeda motor dan juga hampir menerobos lampu merah. Akhirnya Hannah sampai ditempat tujuan, yaitu apartemen Keito. Ketika sampai didalam apartemen Keito, apartemen itu sangat hening dan sepi. Hannah mencari-cari Keito dengan sangat cemas. Kecemasan Hannah bertambah ketika ia tidak menemui Keito dikamarnya. Terdengar suara seseorang sedang muntah dari dalam kamar mandi. Dengan cepat Hannah menyambar pintu kamar mandi lalu membukanya. Hannah melihat Keito sedang duduk terkulai lemas disamping closet kamar mandi.
                Tanpa berfikir lagi, Hannah langsung membopoh Keito ketempat tidurnya. Raut wajah Hannah menjadi panic dan sangat gelisah. Hannah memegang dahi Keito. Badannya panas. Ujar Hannah didalam hati. Keito terlihat sangat lemas dan tidak berdaya. Hannah mencoba mencari-cari es batu dari kulkas Keito. Setelah itu Hannah mengompres Keito semampunya.
                Siang berganti sore, sore berganti malam. Tetapi suhu badan Keito masih seperti sebelumnya. Hannah tidak beranjak dari tempatnya semula. Tangannya masih menggenggam tangan Keito yang sedang tidak sadar akibat dari suhu badannya yang tinggi. Handphone Hannah bergetar dari dalam kantong jaketnya, yang membuat Hannah terbangun dari tidurnya. Tangan kirinya berusaha meroggoh kantong jaketnya. Tangan kanannya tidak berubah sama sekali, masih menggenggam tangan Keito yang sedang tertidur. Nama Inoo tertera dilayar monitor handphonenya Hannah.
                Mengapa Inoo-senpai menelponku? Jam berapa sekarang? Ujar Hannah didalam hati. Lalu Hannah menoleh kearah jam dinding yang menempel didinding kamar Keito. Apa? Jam 6 malam? Tukas Hannah terkejut didalam hati. Hannah menerima telpon dari Inoo.
“Haloo..” jawab Hannah agak serak akibat baru bangun tidur. Hannah memandangi Keito yang masih tertidur. Lalu memegang dahi Keito lagi.
“Hannah..kenapa baru menjawab telpon dariku?” Tanya Inoo cemas. Hannah menghela nafas panjang.
“Maafkan aku Senpai.. aku ketiduran…” ucap Hannah lemas.
“Ketiduran? Memangnya kau sedang dimana? Aku menelpon manajermu, kata dia kau juga tidak menjawab telpon juga membalas pesan darinya….” Tanya Inoo lagi.
“Hmm…aku sedang ditempat Keito…” ujar Hannah lalu mempelankan suaranya ketika sudah ada respon dari Keito.
“…….” Tiba-tiba suasana hening seketika.
“Haloo..senpai?” ujar Hannah bingung.
“Hmm…maaf aku mengganggu kalian. Besok kutelpon lagii…” ucap Inoo lalu mengakhiri percakapannya dengan Hannah. ‘Teeetttt’ (suara tombol mengakhiri telpon).
                Hannah masih kebingungan sambiil memandangi handphonenya. Keito mengejutkan Hannah. Keito memandangi Hannah dengan serius. Hannah sontak melepaskan genggamannya dari tangan Keito.
“Kau belum pulang?” ujar Keito kepada Hannah dengan nada menyebalkan.
“Beluum..aku tidak bisa meninggalkan dirimu sendirian..” ujar Hannah ragu-ragu karna melihat raut wajah Keito tidak senang.
“Kalau begitu pulanglah. Aku tidak membutuhkan dirimu. Kekasihmu lebih membutuhkan dirimu…” ucap Keito lalu beranjak dari tempat tidurnya. Hannah memandangi Keito dengan wajah yang sangat aneh.
“Mengapa bicara seperti itu?” ucap Hannah tertahan. Keito hanya berjalan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan ucapan Hannah.
“Pulanglah! Lain kali jika ingin membantuku, beritahu kekasihmu juga..” ujar keito yang membuat Hannah dengan cepat menyambar tasnya lalu bergegas keluar dari apartemen Keito.
“Maaf…jika bantuanku tidak membantumu sama sekali…” ujar Hannah lalu pergi meninggalkan Keito yang berdiri terdiam memandangi pintu apartemennya setelah Hannah membantingnya.
                Keito merasa sangat menyesal atas sikapnya tadi yang membuat Hannah kesal. Keito yakin, Hannah tidak ingin menemuinya sekarang. Sebenarnya Keito masih merasa tidak dalam kondisi yang baik. Keito berbaring lagi ditempat tidurnya. Keito memikirkan sikap Hannah keesokkan harinya.
……………………………………
                Hari ini benar-benar hari yang menyibukkan untuk Ryutaro. Ia harus menemui banyak rapat penting ditempat yang berbeda. Malam ini pun, ia harus terbang ke Hongkong untuk menemui rekan bisnisnya. Padahal untuk seusia Ryu, belum wajar melakukan hal yang berat itu. Ryutaro mengemas pakaiannya untuk penerbangannya ke Hongkong. Shintaro menghampiri Ryu yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya.
“Kak…kenapa mengemas pakaian?” Tanya Shin yang sudah memakai piyama biru sambil memegang segelas air.
“Shin…aku akan pergi ke Hongkong selama tiga hari…” jawab Ryu tanpa melihat kearah Shin. Shin duduk disudut tempat tidur Ryu.
“Kau meninggalkanku sendiri lagi?” ucap Shin tertahan. Ryu menoleh kearah Shin. “Kau berjanji akan menemaniku jalan-jalan besok…apa kau ingat, kak?” sambung Shin tertahan lalu menundukkan kepala.
“Maafkan aku, Shin. Lain kali aku akan menemanimu kemana pun yang ingin kau kunjungi..aku sangat menyesal lupa akan janjiku padamu, Shin…” ucap Ryutaro lalu mengusap-ngusap kepala Shintaro. Shin hanya menunduk diam.
“Hei…kau laki-laki bukan?” ujar Ryu menyemangati Shintaro. Shin menatap Ryu sekarang. Lalu Ryu tersenyum kepada adiknya itu.
“Aku tidak ingin kau terlalu lelah, kak. Jaga kesehatanmu selagi kau di Hongkong. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa…aku sangat menyayangimu kak….” Ucap Shintaro lalu memeluk Ryu. Ryu hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan Ryu membalas pelukan adiknya itu.
                Semenjak kematian kedua orang tua mereka, Ryu lebih sering meninggalkan Shin dirumah. Ryu lebih sering diluar bersama rekan bisnisnya. Mengurus banyak perusahaan itu sangat berat untuk anak seusia Ryutaro. Ryu tidak ingin adiknya juga merasakan apa yang ia rasakan. Ryu hanya ingin melihat senyuman Shin ketika ia pulang. Ryu juga hanya ingin menemani Shintaro setiap hari. Tetapi semua itu Ryu kubur dalam-dalam, ia sudah berjanjii kepada mendiyang ayah ibu nya untuk menjaga kedua harta berharga mereka, yaitu GreyFlame dan Shintaro.
                Setelah Shin memeluk Ryu, ia berjalan keluar dari kamar Ryu tanpa mengatakan apapun dan tidak menoleh kearah Ryu. Ryu yakin, Shin sangat kecewa untuk kesekian kalinya. Ryu sering berjanji akan menemaninya, tetapi janji-janji Ryu tidak ada satupun yang Ryu tepati. Ryu hanya memandangi Shintaro dari dalam kamarnya. Langkah Shin begitu berat meninggalkan kamar Ryu. Ryu hanya menghela nafas panjang, lalu bergegas pergi sambil membawa kopernya.
to be continued… 
 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2012 in Sincere Desire

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: